Aku Menjalani Karma Akibat Perbuatanku Dimasa Lalu | Media Sergap -->

Aku Menjalani Karma Akibat Perbuatanku Dimasa Lalu

Oleh: Rusdi Muhammad

Dalam pandangan tetanggaku aku anak durhaka pada orangtua ? sejak dari kecil hingga remaja aku telah menyusahkan kedua orangtuaku termasuk ibu. Kesusahan itu sejak mulai mengandungku, melahirkanku ibu bertaruh hingga aku dewasa. Sekalipun aku belum pernah membuat hati ibu bahagia. Kata-kata yang kuucapkan selalu menyakitkan perasaannya. Bahkan aku sering membentak ibu seperti majikan membentak pembantu rumahtangganya.

Sebagai anak perempuan satu-satunya  dari empat orang bersaudara. Aku sangat dimanjakan sejak kecil. Segala permintaanku tak pernah tak dipenuhi ibuku. Aku menjadi raja di rumah sedangkan orangtuaku menjadi budakku.

Untuk memaksa ibu memenuhi keinginanku aku melakukan berbagai cara. Mengunci  diri dalam kamar, mogok makan misalnya menjadi kebiasaanku memaksa ibu untuk memenuhi keinginanku. Saudara kandungku sering protes pada ibu atas perlakuannya padaku tapi ibu tidak bisa bilang apa-apa. Setiap terjadi perang mulut antara aku dengan kakak dan abang-abangku ibu pasti membela aku. Karena sipat ibu seperti itu padaku membuat aku tumbuh menjadi anak yang  merasa paling benar.

ibu kadang harus berhutang pada tetangga bahkan pada renternir untuk memenuhi permintaanku.Soalnya aku tidak mau tau bagaimana usaha ibu bisa memenuhi keinginanku. Pokoknya harus ibu penuhi istilah orang jawa sak dek sak yek.

Tetanggaku sering mencibirku anak orang miskin tapi berlagak orang kaya. Kata mereka tapi aku tidak perduli dengan omongan mereka. Memang benar kami keluarga miskin. Ayah hanya seorang guru di tahun tujuh puluhan  kehidupan guru tidak seperti sekarang ini. Gaji ayah pas-pasan untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Sedangkan ibu hanya ibu rumahtangga biasa tidak punya keahlian apa-apa kecuali mengurus rumahtangga.

Profesi sebagai seorang  guru  dizaman itu hanya sebuah pengabdian yang tulus semata-mata panggilan jiwa ingin mencerdaskan bangsa. Lulusan SMP kemudian ikut kursus guru diangkat jadi guru  begitupun banyak orang yang enggan menjadi guru di zaman itu.

Teman-teman sekolahku sering protes melihat aku memperlakukan ibu kandungku, mereka menaruh rasa  kasihan pada ibuku. Aku memang tidak memperlakukan ibu seperti mereka memperlakukan ibunya.

 “ Perempuan itu ibumu Rin ?” Tanya mereka .

 “Aku tau “ jawabku

 “Mengapa kau perlakukan seperti itu ? “ Tanya Ela

 “Sukak sukak aku lah !”

 “Nanti kamu kualat tau  !”

 “Ibuku tidak pernah mengeluh apalagi menyumpahiku ?”

 “Apa kau tau bagaimana perasan ibumu. Apa kau tau betapa sakit perasaan hati ibumu diperlakukan seperti itu oleh anak kandungnya ?” ujar mereka.

 “Ah sudahlah yok kita pergi,” kataku. Aku tidak ingin berdebat dengan mereka.

Atas sikap kasarku pada ibu. Ibu sering menangis dalam kamar. Aku mendengar ibu  memohon pada Allah agar aku menjadi anak yang salehah. Tapi do’a ibu tidak juga diijabah Alllah, aku tidak mendapat hidayah untuk berubah.

Teman-teman sekelasku berusaha menasihatiku agar aku jangan memperlakukan ibu seperti itu. Tapi aku tidak pernah mengindahkannya. Dengan kian dewasa semestinya tabiatku berubah ternyata tidak. Aku semangkin menjadi-jadi dan bertambah parah. Ibu hanya bisa mengelus dada dan berdo’a  pada Allah SWT agar aku berubah. Tubuh  ibu  dari hari ke hari kian kurus kering makan hati melihat perangaiku. Tapi ibu perempuan yang sangat tabah.

Berbeda dengan ayah sikap ayah tegas, ayah tidak pernah memanjakanku. Ketika ayah memberitahu aku mogok makan karena permintaanku tidak dikabulkan.

 “Kalau tidak mau makan ya sudah biarkan dia mati kelaparan !” jawab ayah. Dalam hati aku merasa kesal mendengar jawaban ayah. Sejak kecil aku memang tidak dekat dengan ayah. Selama ini ibu selalu menyembunyikan sikapku padanya. Dan aku sangat membenci ayah.

Ibu yang tidak sampai hari berusaha mengabulkan pemintaanku dengan berbagai cara kadang harus berhutang pada tetangga.

Di sekolah aku termasuk murid yang Bengal, aku sering cabut dan berbuat onar. Aku bersama empat orang taman sekelasku pernah membuat tinta merah di sekolah.  Kami berempat pergi berpasang-pasangan  menginap di rumah bukde temanku. Di rumah itu kami pesta seks semalaman.

Karena menjelang maghrib belum juga pulang orangtua kami mendatangi sekolah. Orang tua kami gelisah  menanti anaknya tidak pulang ke rumah.  Kami sengaja tidak memberitahu kedua orangtua. Zaman itu belum ada HP dan tidak  ada yang titip pesan pada teman sekelas yang rumahnya satu kelurahan. 

Menurut Anisah teman sekelasku yang tidak ikut bolos. Orangtua kami mendatangi  rumah wali kelas menanyakan keberadaan kami.

 “Tadi mereka bolos saat jam terakhir bahasa Ingris. Kemana perginya kami tidak tau. Teman sekelas mereka juga tidak tau mereka pergi ke mana ?”

 “Kami pihak sekolah akan berusaha mencarinya. Bapak tenang saja tunggu sampai besok pagi,” ujar bapak wali kelas menenangkan orangtua wali murid.

 “Bagaimana kami tidak cemas. Mereka itu anak perempuan pergi berpasang-pasangan  lagi,” kata ibu kami.

 “Kalau terjadi apa-apa bagaimana pak ?” Tanya orangtua wali murid yang lainnya.

 “Saya tau perasaan hati ibu. Saya juga punya perasaan yang sama seperti bapak ibu. Karena mereka akan saya juga. Tapi kepergian mereka tanpa izin bagaimana saya bisa mengetahui keberadaan mereka. “ ujar Bapak wali kelas kami.

Semalaman orangtua kami tidak dapat tidur memikirkan anaknya. Jam Sembilan pagi kami baru tiba di rumah masing-masing. Reaksi orantua kami menyambut kepulangan kami bermacam-macam. Ada yang kenak marah habis-habisan. Cuma aku yang tidak mendapat hukuman apa-apa. Ibuku tidak marah baginya yang penting aku sudah pulang dengan selamat. Kepakad ibu aku jelaskan malam tadi tidur di rumah bukde Tari.

Pihak sekolah memberikan hukuman  kami  tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Dari rumah aku dan teman-teman yang sama-sama kenak skor  seperti biasa berangkat ke sekolah. Kami belajar di alam di mall tiba waktu pulang sekolah kamipun pulang. Menikmati masa skorsing kami menikmati kebebasan bercinta dengan pasangan. Dua  temanku terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena hamil duluan. 

Melihat perangaiku semakin menjadi jadi ibu tertekan bathin. Tubuh ibuku menjadi kurus kering dan batuh-batuk, tapi bukan batuk biasa melainkan batuk darah. Aku melihat darah berceceran dalam kamar ibu. Aku bukannya menolong ibu tapi malah pergi keluar rumah meninggalkan ibu merintih kesakitan.

Malam harinya aku mendapat kabar  ibu opname di rumah sakit. Aku bukannya segera menjenguk ibu ke rumah sakit saat itu juga. Aku baru datang keesokan harinya ketika kulihat abang dan kakakku duduk termenung dengan raut wajah sedih.  Apa yang terjadi ? bisik hatiku.

 “Ada apa mengapa raut wajah kakak dan abang sedih ?” tanyaku. BERSAMBUNG  !!!!

 “ibu telah meninggal,” kata  kakak laki-lakiku. Mendengar jawaban itu  mendadak tubuhku lemas. Langit seakan runtuh menimpaku. Tangisku meledak tak kuat rasanya menanggung musibah yang menimpaku.

“Tak guna kau menangis. Kematian ibu karena kau. Anak durhaka !” hardik kakakku nomor dua. Dia memang begitu wataknya. Aku hanya diam. Kakakku benar dan aku tidak membantah kata-katanya.

 “Sekarang ibu telah tiada tak ada gunanya diantara kita saling bertengkar  !” kata  kakakku nomor satu menenangkan suasana. Aku terus menangis  tersedu-sedu. Rasa bersalah pada ibu seperti pisau tajam menikam  mencabik-cabik tubuhku.

Kematian ibu membuat aku sangat kehilangan. Benarlah seperti lagu yang sering dinyanyikan bang Haji Rhoma   Irama Kehilangan. Kalau sudah tiada baru terasa. Betapa kehadirannya sangat berharga.

Berhari –hari aku hanya bisa termenung  dalam kamar. Selama itu aku tidak masuk sekolah. Teman-teman sekelasku bahkan guru wali kelasku datang membujukku agar kembali ke bangku  sekolah.  Akhirnya aku kembali masuk sekolah setelah aku merenungkan kata-kata  yang diucapkan teman-teman sekelasnya. Apa yang mereka bilang  akhirnya aku benarkan. Ibu telah meninggal  tak guna di sesali  sedangkan hidup terus berjalan. Bagaimana aku bisa menjemput cita-cita  di hari depan kalau setiap hari duduk melamun.

“Sekolah itu penting  untuk masa depanmu walau akhirnya nanti perempuan harus menjadi ibu rumahtangga.  Mengurus  suami anak-anak dan memasak. Apalagi kau sekarang sudah duduk dibangku kelas 3  beberapa bulan lagi akan UN. Ijazah penting untukmu  melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi atau mencari pekerjaan,” kata ibu Wati guru wali kelasku.

Kata-katanya setiap malam  datang dalam lamunanku. Kata-kata  itu emberikan motivasi bagiku untuk bangkit. Kehadiranku kembali ke sekolah disambut gembira oleh teman-teman sekelasku. Aku diminta  datang menghadap kepala sekolah sebelum mengikuti pelajaran dalam kelas.

“Bapak senang kau kembali ke bangku sekolah. Bapak memahami kesedihan yang kau alami tapi kesedihan tidak akan mengubah keadaan bahkan sebaliknya membuat dirimu kian terpuruk,” ujar bapak kepala sekolah. Kata-kata yang diucapkan bapak kepala sekolah membuat aku kembali bersemangat  untuk meraih cita-cita.

 “Terima kasih Pak. Bapak telah memberikan semangat bagi saya. Sebelumnya saya juga mohon maaf  beberapa minggu tidak masuk sekolah,” kataku.

 “Sekarang masuk kembali ke dalam kelas ,” pinta bapak kepala sekolah. 

Begitu aku memasuki ruangan kelas aku disambut gembira oleh teman-teman sekelasku. Mereka bertepuk dan memelukku. Bahkan pelajaran yang barusan saja dimulai harus berhenti. Ibu Wati guru Bahasa Indonesia memelukku dan memintaku agar  melupakan apa yang sudah terjadi jangan lagi disesali.

“Doakan ibu agar bahagia di alam baqa,” katanya. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Hari itu temanku membuat  kejutan. Mereka merayakan hari ulang tahunku dan mempersiapkannya di kantin sekolah. Padahal aku sendiri  tidak ingat lagi  hari kelahiranku. Kueh ulang tahun dan lilin mereka siapkan. Mereka kumpulkan uang dari teman-teman sekolah kami.  Mataku berkaca-kaca tak sanggup menahan perasaan haru. Mereka begitu memperhatikanku.

“Terima kasih kalian semua teman baikku.” hanya  kata-kata itu yang terucap dari bibirku. Bagiku ini merupakan survaice yang tak kuduga.

Sejak kematian ibu aku menjadi pendiam. Aku bukan Nisa yang dulu lagi sering membuat kegaduhan di sekolah. Kini aku aktif mengikuti pengajian di sekolah dan ditempat teman-teman sekelasku. Alhamdulillah aku sudah rajin sholat lima waktu ditambah sholat Dhua dan tahajjud. Dalam sholatku aku memohon ampun kepada Allah dan mendoakan ibuku. Air matakupun jatuh berhamburan. Apakah aku mendapat hidayah atau bagaimana sehingga aku kini mengenak hijab dan jika tiba waktu sholat di sekolah aku bersama teman-teman mengerjakannya. Semoga begitu.

Bicarapun aku tidak seperti dulu meledak-ledak, dalam pandangan mereka aku begitu santun, membuat guru-guru disekolahku semua  menyayangiku. Mereka bangga melihat aku bisa berubah, bahkan aku dijadikan contoh bagi murid yang lain.

“Kalian harus mencontoh Nias dia dulu menorehkan tinta hitam di sekolah ini sekarang  tinta hitam itu dihapusnya menjadi tinta putih. Kini dia bisa berubah bahkan berpeetasi membawa harum nama sekolah,” ujar Bapak Wali Sekolah. Pada waktu  MTQ  antar sekolah aku meraih juara pertama. Sesuatu prestasi yang tak pernah terbayangkan oleh semua orang di sekolahku dan dilingkungan tempat tinggalku.

Ayah dan kakak-kakakku kini sikapnya berubah padaku. Dulu mereka menganggapku setan di rumah sekarang menjadi malaikat. Mereka berbalik menyayangiku termasuk juga ayah. Walau begitu dalam lamunanku tetap saja terbayang  perlakuanku terhadap ibu. Kalau teringat kejadian itu air mataku berhamburan.

“Ya Allah mengapa dulu Engkau biarkan aku seperti itu. Mengapa setelah ibu tiada baru Engkau beri hidayah padaku,”  kata-kata seperti itu sering muncul dalam hatiku. Benarlah kata orang penyesalan itu datangnya terlambat dan benar juga kata orang setelah orang tercinta pergi baru terasa betapa mereka itu sangat berharga dalam kehidupan kita.

Setelah lulus dari SMA aku tidak melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi. Ayah waktu itu sudah pensiun tak ada uang untuk biaya kuliah. Aku memilih menggantikan posisi Ibu merawat ayah yang sakit-sakitan sejak ibu tiada.

Setahun menganggur setelah dapat sekolah aku mendapat jodoh. Dia kakak kelasku waktu sekolah SMA dulu. Aku memanggilnya Mas Robby. Dia sosok yang baik dan murid yang pintar di kelasnya. Hubungan percintaan hanya berlangsung singkat. Tiga bulan pacaran kamipun menikah. Mas Robby seorang guru mengajar di SMA. Statusnya sudah PNS.

Setelah menikah aku tetap tinggal se rumah dengan ayah dan Mas Robbypun tidak keberatan. Setahun menikah kami dikarunia seorang bayi perempuan. Bayi yang lahir normal itu kami beri nama Nur hayati. Kehadirannya menambah kebahagian kami sebagai pasangan suami isteri.

Pada usia lima tahun perangainya mulai kelihatan sangat mirip denganku diwaktu kecil dulu. Suka merajuk dan kalau permintaaannya tidak dituruti ngamuk, mogok makan, mogok bicara. Baru berusia lima tahun kelakuannya sudah seperti itu bagaimana dewasa nanti ?

Melihat perangai Nurhayati aku seperti melihat diriku diwaktu kecil dulu. Dulu aku memperlakukan ibu seperti pembantu sekarang putri  tunggalku juga melakukan hal yang sama. Ia sudah berani memerintahku sesuka hatinya dengan mengucapkan kata-kata kasar bahkan makian. Kalau dulu ibu begitu menderita menerima perlakuan dariku kini aku merasakannya.

Dalam sholat tahajudku aku berdo’a berlinang air mata “Ya Allah jika ini balasan yang dulu aku perbuat pada ibuku aku ikhlas menerimanya, tapi jangan siksa aku kelak di neraka. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orangtuaku. Ya Allah tunjukilah putriku sebagaimana  Engkau beri  hidayah padaku,” begitu do’aku setiap sholat.

Suamiku juga tidak bisa berbuat apa-apa kami hanya bisa berdoa. Nurhayati yang dulu imut diwaktu waktu seiring dengan perjalanan waktu kita sudah duduk di bangku SMP. Tubuhnya bohai dan  bergaul bebas dengan  laki-laki. Kadang ia berhari-hari meninggalkan rumah. Memilih hidup dirumah teman-temannya.  Sebagai orangtua tentu  aku sangat mencemaskan Nurhayati, aku takut ia terlibat narkoba dan pergualan bebas.

Suatu hari aku menerima surat pemberitahuan dari wali kelasnya sudah  tiga hari Nurhayati tidak masuk sekolah. Kemana perginya aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Beberapa teman sekelasnya saat aku hubungi mengatakan tidak tau. Dalam sholat aku berdoa mohon perlindungan dari Allah SWT atas keselamatan putrid semata wayangku. Betapapun juga dia titipan Allah yang harus aku jaga dan pertanggungjawabkan. Tapi perangainya itu membuat aku tak berdaya ? aku sudah kehabisan akal bagaimana mendidiknya.

Setelah aku suami dan teman-temanku berusah payah mencarinya tapi tidak ketemu juga. Suatu pagi mendapat telpon dari rumah sakit yang memberitau Nurhayati ada di sana dalam keadaan tidak bernyawa. Doktor rumah sakit mengabarkan putriku mengalami kecelakaan di jalan raya. Aku bergegas bersama suami menuju rumah sakit.

Nurhayati sudah berada di kamar mayat. Aku hanya bisa terisak menahan duka yang sangat dalam sambil merebahkan wajahku di dada suamiku.

“Mari kita ikhlaskan kepergiannya sayang?” ucap suamiku. Aku  hanya mengangguk.

Setelah mengurus administrasi pada Tata Usaha Rumahsakit Nurhayati kami bawa pulang. Hari itu juga jenazahnya dimakamkan. Penyebab dari kematiannya menurut temannya yang selamat mereka habis pesta narkoba di rumah salah seorang temannya. Dalam keadaan sakau mereka mengenderai sepeda motor saat  tiba di pertigaan jalan mereka  menerobos lampu merah. Dalam peristiwa tabrakan itu  tiga orang meninggal dunia dua kritis.

Di malam terakhir tahlilan di rumah kami tengah malam aku bermimpi. Dalam mimpiku Nurhayati  berbaju compang camping memanggil-manggilku. Bunda-bunda ! Maafkan aku bunda. Aku telah durhaka pada bunda. Ya nak bunda maafkan, bunda sayang padamu nak ?” sahutku  dalam mimpi.

“Kamu mimpi apa ?” Tanya suamiku. Kepada suamiku aku menceritakan mimpi yang barusan aku alami.

“Kitakan sudah memaafkannya. Almarhumah darah daging kita. Sudahlah sekarang tidur lagi ya ? besok kita ziarah ke pusanya ?” ujar suamiku. Aku hanya mengangguk.

Di pusara almarhumah putriku kami berdo’a memohon keampunan dosa-dosanya kepada kedua orangtuanya. Dalam tahajudku aku memohon berdo’a pada Allah. “Ya Allah maafkanlah kami yang tak  bisa menjaga  amanahMu. Kami tidak lulus menjalani cobaan dariMu. Kalau menurut Engkau  kami sebagai orangtua tidak amanah janganlah beri kami anak  lagi untuk kami asuh menjadi anak yang berbakti padaMu. “ begitu doaku.

Alhamdulillah doaku diijabah Allah, di usia  35 tahun aku hamil lagi. Setelah seminggu aku terlambat bulan kemudian disusul tanda-tanda kehamilan seperti dirasakan perempuan. Akupun memeriksakan diri ke doctor kandungan. Hasil pemeriksaan positip aku hami. Tentu aku bahagia dan merahasiakan kebahagian itu hingga malam hari.

Saat kami berbaring berdua di atas tempat tidur. Aku ceritakan kehamilanku pada suami.

“Mas aku hamil lagi ?” kataku. Suamiku tiba-tiba bangkit dari tidurnya, karena kaget. Ia menatapku.

“Aku hamil Mas ?” ulangku sekali lagi.

“Alhamdulillah,” katanya. aku memperlihatkan surat dari dokter kandungan padanya. Karena sangat gembiranya suamiku memelukku sampai aku sesak bernapas.

“Mas sudah-sudah jangan perlakukan isterimu seperti itu,” pintaku iapun melepas pelukannya.

“Jaga baik-baik ya sayang anak kita ?” pintanya. Aku hanya mengangguk.

Malam itu malam paling bahagia yang kurasakan bersama suami. Saat ini aku sedang menanti kelahiran bayiku. Semoga  bayiku nanti lahir normal. Ibunya sehat bayinya  juga sehat.

No comments:

Post a Comment

Berita Terkini