-->

Nasib PTPN IV Kebun Berangir Semakin Terancam. Ini Penyebabnya!

mediasergap.com | LABURA - Melihat semakin buruknya kondisi areal  perkebunan sawit PTPN IV milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di lokasi areal Kebun Berangir, Kecamatan Na IX X, Kabupaten Labura, Sumut ini, diprediksi beberapa elemen masyarakat pemerhati perkebunan dinilai semakin terancam masa depannya.

Hal ini diakibatkan sistem pengelolaan yang dilakukan Management PTPN IV Kebun Berangir banyak melanggar dari ketentuan peraturan perusahaan kebun yang profesional. Seperti pelaksanaan pemeliharaan melalui masa waktu yang tepat, baik dalam pembabatan manual, Cemis hingga pendongkelan anak kayu dan mengatasi rambatan hama gulma jenis benalu pada kegiatan program pelaksanaan perawatan di areal produktif Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) maupun Tanaman Menghasilkan (TM) pada komoditi sawit.

Sepertinya, Management PTPN IV yang dipimpin Ir. Suriyanto tidak menjalankan program kerja di perusahaan Negara Kebun Berangir ini.

Sejumlah awak media saat melakukan investigasi, terlihat buruknya kondisi tanaman sawit yang berada di blok Afdeling 1 dan 3 dipenuhi hama gulma yang merajalela berkembangbiak di tanaman produktif pohon sawit.

Tumbuh suburnya hama gulma tersebut diakibatkan sistem perawatan areal tidak tepat waktu pelaksanaan masa rotasinya, seperti pembabatan maupun perlakuan cemis semprotan dengan menggunakan  peracunan rumput, benalu, dan juga  pendongkelan anak-anak kayu di areal produktif milik Kebun Negara Berangir ini

Salah seorang karyawan panen di Afdeling 1, Jumat (10/09/21) lalu dan minta dirahasiakan identitasnya, karena takut diskor kalau ketahuan memberi informasi.

"Maaf la ya pak, kami di kebun ini kurang berani memberi bocoran keluar, sebab takut diberi sanksi. Masalah ancak kerja, ya beginilah situasi semak arealnya, ini sangat berpengaruh dengan tingkat kesulitan kerja kami, bahkan langsiran buah panennya harus menggunakan sepeda motor khusus, karena harus dilangsir ke jalan induk di sana. 

Ia pun mengatakan, kalaulah perusahaan mau memanfaatkan kembali jalan-jalan blok ini, tentu sangat memudahkan bagi kami membawa hasil panen ke sebelah ancak kami saja.

"Kan tidak memeras tenaga kali," keluh  pekerja panen tersebut.

Sementara, ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Asisten Areal Peruntukan Kehutanan (APK) Wira Pratama yang juga sebagai asisten tanaman kebun, mengungkapkan, memang perawatan kita tetap lakukan, tapi per semester pelaksanaannya.

"Sebagai pelaksana di lapangan, pekerjaannya dilakukan oleh pihak rekanan (Vendor) mungkin belum sampai saja jadwal ke areal itu pusingan perawatannya. Kalau masalah langsiran hasil panen, karyawan pemanen ada yang menggunakan sepeda motor dengan keranjang. Itu pun ada kita memberikan bantuan kepada mereka berbentuk ban sepeda motor, kalau dulu ban angkong," ujar Wira, saat ditemui awak media di mess kebun, Kamis (16/09/21.

Wira menambahkan, begitu juga kalau ada keluhan pemanen tentang adanya jalan yang tidak diproduktifkan lagi, nanti bisa kita tinjau ulang, karena kita juga ada alat berat dosser untuk pembukaan jalan transportasi. Dan setiap minggu kita lakukan komunikasi ke afdeling-afdeling untuk menanggapi keluhan karyawan.

Di tempat terpisah, Sekretaris LSM Sidik Perkara Labura M.Nasti, Kamis (16/09/21) di Aek Kanopan mengatakan, sudah sepatutnya Dirut PTPN IV Sucipto Prayetno segera menurunkan tim pemeriksa internal ke Kebun Berangir ini yang banyak menuai masalah, baik tentang hasil produksi yang tidak standart hingga buruknya kondisi pemeliharaan areal yang dananya telah dianggarkan.

"Besar sekali kecurigaan kita terkait permasalahan-permasalahan di Kebun Berangir ini, bayangkan di sebelah kantor kebun ada kantor Distrik, masak bisa kondisi areal di belakang seputaran kantor mereka pun dipenuhi rumput bagai semak belukar, gimana lagi di areal yang jauh, ini hal yang mustahil kalau tidak ada unsur pembiaran atau tutup mata tau sama tau," ungkapnya.

Melihat hal ini, lanjut Nasti, kita akan tetap memantau kinerja petinggi petinggi di perusahaan Negara PTPN IV Berangir ini. "Bila data sudah lengkap, kita akan segera melaporkan temuan ini ke Dirut bahkan ke Kementrian BUMN, agar nasib masa depan perusahaan milik negara ini dapat terselamatkan dari tindakan korupsi berjamaah," tegas M Nasti. (Yans/red)

Seharusnya mereka bisa menggunakan angkong saja untuk melangsir hasil dodosan alhasil akibat tidak bisa dilewati lagi jalan blok produksi ini maka Para karyawan panen sepertinya  harus menguras tenaga extra  dan menyiapkan kendaraan chusus memakai keranjang untuk memuat buah dan terpaksa melangsir hasilnya kejalan poros induk areal yang  jaraknya memutar

No comments:

Post a Comment

Berita Terkini