MEDAN (Sumut) mediasergap.com — Penanganan laporan dugaan pemalsuan tanda tangan dan cap jari pada dokumen ahli waris di Polrestabes Medan menjadi sorotan. Pasalnya, laporan yang dilayangkan Tiolina Pasaribu sejak 10 Januari 2025 hingga November 2026 disebut masih berada pada tahap penyelidikan.
Hampir 22 bulan berjalan, perkara tersebut belum dinyatakan naik ke tahap penyidikan. Kondisi ini mendorong Tiolina Pasaribu mengadukan proses penanganan laporannya ke Bareskrim Polri dan Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Mabes Polri.
Laporan tersebut tercatat dengan Nomor: LP/B/96/I/2025/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA, dengan terlapor Bert S dan pihak lainnya. Perkara itu berkaitan dengan dugaan pemalsuan tanda tangan serta cap jari pada dokumen ahli waris yang diduga menggunakan nama Tiolina Pasaribu tanpa sepengetahuannya.
Dugaan tindak pidana yang dilaporkan sebelumnya mengacu pada Pasal 263 dan/atau Pasal 264 KUHP lama. Sementara dalam KUHP Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, ketentuan mengenai pemalsuan surat antara lain diatur dalam Pasal 391 dan Pasal 392, sesuai unsur perbuatan yang terbukti.
Lambannya perkembangan penanganan perkara tersebut turut mendapat perhatian dari tiga praktisi hukum, yakni Gindo Nadapdap, SH, MH, Nasib Butar-butar, SH, MH, dan Rio Tampubolon, SH.
Mereka menyoroti belum adanya kepastian mengenai kelanjutan laporan yang telah berjalan lebih dari satu tahun sembilan bulan tersebut. Menurut mereka, penanganan laporan masyarakat harus dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak.
Gindo Nadapdap, S.H., M.H, menilai lamanya proses penanganan tanpa perkembangan yang jelas dapat menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat terhadap kinerja aparat penegak hukum.
"Ini merupakan preseden buruk bagi pandangan masyarakat terhadap institusi kepolisian, khususnya Polrestabes Medan, apabila tidak ada kepastian hukum yang diberikan kepada pelapor atau korban," tegasnya kepada media, Senin, 23 Maret 2026.
Sementara itu, Nasib Butar-butar, S.H., M.H, bersama Rio Tampubolon, S.H, turut menyampaikan keprihatinan terhadap proses penanganan perkara yang dinilai berlarut-larut.
Mereka mengingatkan agar tidak muncul dugaan adanya ketidakberesan dalam proses penanganan laporan masyarakat. Menurut mereka, setiap tahapan penyelidikan harus memiliki arah dan perkembangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Menurut hemat saya, jangan sampai ada permainan-permainan nakal dalam penanganan perkara seperti ini," demikian kritik yang disampaikan Nasib Butar-butar dan Rio Tampubolon.
Kepada awak media, Tiolina Pasaribu kembali mengungkapkan kekecewaannya terhadap perkembangan laporan yang telah disampaikannya sejak Januari 2025.
Ia menyebutkan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk memperoleh kepastian penanganan perkara, termasuk menyampaikan surat pengaduan khusus kepada Kapolrestabes Medan yang saat itu dijabat Kombes Pol Gideon, serta mengangkat persoalan tersebut melalui pemberitaan media dan media sosial.
Namun, menurut Tiolina, hingga saat ini laporan tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah proses pemeriksaan telah dilakukan, termasuk pemeriksaan sidik jari melalui INAFIS di Polrestabes Medan hingga Ditreskrimum Polda Sumatera Utara, serta permintaan keterangan atau wawancara terhadap saksi, termasuk kepala lingkungan dan lurah.
"Bayangkan, laporan yang saya buat sejak 10 Januari 2025 sampai sekarang masih dalam tahap penyelidikan. Proses pemeriksaan sidik jari dan permintaan keterangan saksi sudah berjalan, tetapi saya masih mempertanyakan bagaimana kelanjutan penanganannya. Saya berharap perkara ini mendapatkan kepastian hukum dan tidak terus berlarut-larut," ungkap Tiolina.
Setelah menempuh berbagai upaya untuk meminta kejelasan, Tiolina akhirnya menyampaikan pengaduan ke Bareskrim Polri dengan Nomor Laporan Konsultasi: LK/899/X/2026/BARESKRIM serta ke Divpropam Mabes Polri sekitar 15 Oktober 2026.
Upaya tersebut kemudian diikuti dengan adanya perkembangan sebagaimana tercantum dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) terakhir yang diterimanya.
Dalam SP2HP tersebut, menurut Tiolina, penyidik Polrestabes Medan menyampaikan rencana pelaksanaan gelar perkara pada Senin, 16 November 2026.
"Setelah saya menyampaikan pengaduan ke Bareskrim dan Divpropam Mabes Polri sekitar 15 Oktober lalu, akhirnya dalam SP2HP terakhir disebutkan bahwa penyidik akan melaksanakan gelar perkara pada Senin, 16 November 2026. Saya berharap gelar perkara ini benar-benar menjadi titik terang bagi laporan yang sudah hampir 22 bulan saya perjuangkan," ujar Tiolina.
Tiolina menjelaskan, dirinya meyakini terdapat dugaan pemalsuan dalam dokumen ahli waris yang menjadi objek laporan. Ia mengaku tidak pernah diberi tahu maupun dimintai persetujuan terkait pencantuman namanya dalam dokumen tersebut.
Menurutnya, sejumlah bukti dan keterangan saksi yang telah disampaikan kepada penyelidik perlu diperiksa dan diuji secara menyeluruh untuk memastikan ada atau tidaknya unsur tindak pidana.
Ia berharap seluruh bukti, termasuk hasil pemeriksaan sidik jari dan keterangan saksi, menjadi bahan pertimbangan dalam gelar perkara mendatang.
Sebelumnya, Gindo Nadapdap, SH, MH, Nasib Butar-butar, SH, MH, dan Rio Tampubolon, SH, telah menyarankan agar Tiolina menyampaikan pengaduan secara tertulis kepada sejumlah pejabat terkait, mulai dari Bareskrim Polri, Divpropam Mabes Polri, Kapolda Sumatera Utara, Bidpropam Polda Sumatera Utara, hingga Kabag Wassidik Polda Sumatera Utara.
Mereka meminta agar dilakukan pengawasan dan evaluasi terhadap proses penanganan laporan tersebut, termasuk menelusuri apakah terdapat pelanggaran prosedur atau ketidakprofesionalan dalam pelaksanaan tugas penyelidik.
Apabila ditemukan pelanggaran, mereka mendorong agar tindakan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku diberikan kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Menurut mereka, laporan masyarakat tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan perkembangan. Transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas merupakan bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Kini, perhatian tertuju pada gelar perkara yang dijadwalkan berlangsung 16 November 2026. Masyarakat tentu berharap proses tersebut dapat memberikan kejelasan mengenai arah penanganan laporan Tiolina Pasaribu, apakah terdapat dasar hukum yang cukup untuk meningkatkan perkara ke tahap penyidikan atau diperlukan langkah penyelidikan lebih lanjut.
Kepastian hukum, transparansi, dan profesionalitas dalam penanganan setiap laporan masyarakat menjadi harapan yang harus dijawab melalui proses penegakan hukum yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. (Rel)